Tampilkan postingan dengan label WHY POLIGAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WHY POLIGAMI. Tampilkan semua postingan

Catatan Tentang Poligami (III)

Poligami bukan Tindakan Kedzaliman
Seringkali pejuang moderisme, sekularisme, liberalisme dan feminisme menunding bahwa poligami merupakan pelecehan dan penghinaan martabat wanita serta melahirkan kekerasan psikologis terhadap wanita. Qosim Amin menyebut poligami sebagai praktik yang menjijikkan dan pelecehan bagi wanita. Alasannya bukan agama, tapi kodrat manusia. Ia menyebutkan tak seorang wanita pun ingin dimadu dan kalau seorang lelaki kawin dengan istri kedua, berarti sama sekali mengabaikan perasaan istri pertama. Amir Ali mengatakan bahwa poligami dalam tahap-tahap perkembangan sosial tertentu tidak bisa dihindari. Namun dengan kemajuan berfikir dan kondisi dunia yang selalu berubah, kebutuhan poligami sudah hilang, dan di beberapa negara muslim yang kondisinya tidak lagi membutuhkan poligami, poligami dipandang sebagai kejahatan dan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Nabi. Sementara Gerakan feminisme di Indonesia menuduh poligami telah melahirkan kekerasan di rumah tangga (KDRT). Shinta Nuriyah, Ketua Yayasan Puan Amal Hayati, menyatakan penolakannya terhadap praktik poligami, karena praktik tersebut bukan merupakan jaminan kebahagiaan, tetapi justru penderitaan dan permasalahan baru dalam kehidupan berumah tangga. Poligami, kata Shinta, berpotensi menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi perempuan dan anak-anak. Yang lainnya, Siti Musdah Mulia menyebut poligami sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity). Sementara itu, Faqihuddin Abdul Kodir peneliti Fahmina Institute Cirebon menyebutkan bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan.

Catatan Tentang Poligami (II)

Dan Mereka Mulai Membenci Poligami
Tak ada yang tahu persis mulai kapan poligami kemudian menjadi sosok hantu yang menyeramkan. Di awalnya barangkali musuh-musuh Islam bertanggungjawab terhadap masalah ini. Setelah mereka menyadari bahwa umat Islam tidak bisa ditaklukkan dengan kekuatan fisik, mereka senantiasa mencari cara untuk menyerang Islam dengan mendiskreditkan ajaran dan syariat Islam, melempar keragu-raguan dan syubhat di sekitar hukum Islam serta menggambarkan dan menempelkan citra buruk pada diri Muhammad SAW. 

Catatan Tentang Poligami (I)

Poligami sesungguhnya bukanlah isu yang menarik. Poligami telah menjadi bagian dari sejarah kemanusiaan sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Poligami telah tumbuh dan diterima dalam kultur manusia di barat maupun di timur, utara maupun selatan. Hampir semua bangsa-bangsa di dunia, Yunani, Cina, India, Siria, Babilonia, Mesir, Persia, Sisilia, Rusia, Eropa Timur, Jerman, Swiss, Austria, Belanda, Denmark, Norwegia, Afrika, Asia dan lain-lain mengenal dan mempraktikkan poligami. Dalam undang-undang Likai di Cina, poligami dibolehkan sampai 150 istri. Bahkan salah seorang raja di Cina mempunyai 30.000 istri.